Unforgetable "AmazingCamp"

Malam itu, di pleno kantor, Manajemen menunjukku untuk menahkodai tim kecil [teramat kecil; hanya 5 orang] untuk mengelola event eksklusif bertajuk AmazingCamp. Sedikit saya ceritakan, AmazingCamp ini adalah program 3 hari 2 malam (11-13 Juli 2006) bagi pelajar SMP dan SMA di sebuah villa cukup wah di Batu. Konten dari program ini sesuai motonya yaitu,
Brave [mengenali potensi diri dan kekuatan diri untuk berbuat melebihi keyakinan diri kita selama ini],
Bright [belajar bagaimana cara belajar, mengenali dan mempraktekkan kunci-kunci sukses pelajar sukses],
Believe [membangun kesadaran bahwa diri ini hanyalah makhluk, membangun komunikasi positif dengan orang tua dan keluarga]
Event kali ini adalah AmazingCamp pertama yang kami adakan, dengan peserta 33 orang kami mendapatkan karunia yang juga sangat amazing. Saya tidak tahu harus darimana menceritakan segala rangkaian yang luar biasa ini, tapi yang pasti tak mungkin saya ceritakan hanya dengan satu postingan saja.
OK, sebelum cerita, lewat blog ini saya ingin berterimakasih dulu, Yang pertama dan utama syukurku kepada Allah SWT, yang dengan sangat menakjubkan mentakdirkan segala karunia ini terjadi [malam terakhir menjelang pelaksanaan, adalah tangis yang tak akan pernah kulupa, tangisku padaMu karena banyaknya kelalaian ku padahal Engkau tak pernah lalai padaku], terima kasih untuk istri dan ananda tercinta, yang telah ikhlas Abi tinggal selama berhari-hari [andai engkau tahu dinda, SMSmu telah memecah sumbatan tangisku padaNya, walau kau tak pandai merangkai kata-kata indah tapi pedulimu melebihi segala keindahan], tuk SC [Pak Andi & Pak Arief] yang sabar ngemong kita semua, tuk Manajemen specially Pak Deddy [kata-katamu di kala akhir kesabaranku merobek kembali selubung yang membuatku hampir menyerah, "I'll give mine whatever u need 4 this project" itu kata-kata yang membuatku trus kokoh berjalan], untuk sodara-sodara yang telah sabar, kukuh, tafahum dan segala rasa serta pengorbanan yang telah membuat ukhuwah qt menjadi indah [Sofyan yang tak pernah henti membuat kita tersenyum walau kadang kami juga harus mengelus dada, Catur yang sensasional - engkau memilih cuti walau harus menunda status doktermu- its great bro but rarely u maked us "sumpek...pek", Dadang yang dalam diamnya dia berkarya -sorry bila qt banyak melukai egomu-, Luluk yang nggak pernah bosan membuatku terus bersemangat dengan AmazingCamp -sorry bila kadang2 u kayak jadi common enemy, mungkin karena ente akhwat dewe yo? jadi enak ngejailinnya??!!, Prianda yang kehadirannya bak membawa seberkas cahaya buat kemuraman kami berlima yang telah lebih dulu berangkat. En enggak lupa tenkyu berat buat para Coach yang luar biasa, kalian semua [Hida, Liza, Ummu, Chaidir en Rio] berbuat lebih menakjubkan ketimbang yang kami harapkan! kesan paling berdesir di dada adalah ketika kalian tak perlu lagi beradaptasi untuk ngelesot bareng kami bahkan bersih2 "gudang" kami segala. Serta semua orang yang mulai dari senyumnya, langkahnya, lambaian tangannya hingga keringatnya yang menyucur yang turut menjadikan program ini luar biasa, saya ucapkan matur tenkyu yang setinggi-tingginya. Oia nggak mungkin aku lupakan jasa2 Bu Sokhah and Mbak Elis koki hebat kami and masih panjang lagi daftar nama yang tak mungkin kutulis semua............ suwun, nuhun, syukrom, terima kasih, merci, thank you, mator sakalangkong, harigato, danke......
Anakku

Saya pernah bersumpah dalam hati untuk memeberikan segalanya yang saya bisa untuk perkembangan anak saya. Agar kelak ia mampu menjadi yang terbaik dihadapan Rabbnya! [impian yang belum terwujud pada ayahnya hingga kini]. Saya pernah bermimpi untuk membiarkannya memilih pendidikan yang terbaik yang dia suka. Saya pernah bermimpi menghantarkannya menjadi salah seorang muslim yang dibutuhkan kemampuannya untuk ummat Islam di dunia. Saya pernah bermimpi menghantarkannya berangkat ke Palestina untuk memenuhi janjinya, membantu memerdekakan kiblat pertama ummatnya [meski terkadang hati ini bergetar keras bila mengingatnya].
Anakku, Umar Izzatu Rabbani......................................
Semoga Allah berkenan menjadikanmu setangguh dan seberani Umar bin Khattab
Hingga kau tak pernah mengenal rasa gentar untuk Menjaga kehormatan agama Tuhanmu.
ajarkanlah anakmu berkuda, berenang dan memanah. [au kama qola - Al Hadist]
Saya mungkin tak akan bisa mengajarkan itu semuanya, tapi saya meyakini bahwa Allah akan langsung mengajarkan bagi jundi-jundi terpilihNya, dan saya hanya berharap anakku termasuk bagiannya.
_______________________________________
Allahumma hablana min azwajina wa durriyatina qurrata a'yun wa ja'alna lilmuttaqina imama
Jangan Pernah Berharap tuk Merangkul Masa Lalu

Anda mungkin bukan anak pejabat ataupun pahlawan atau sekedar orang bijak yang disanjung masyarakat. Keluarga anda boleh jadi adalah bagian sepi dari hiruk pikuk dinamika kehidupan. Ibu anda mungkin tak pernah berbuat sesuatu yang boleh dikenang dengan indah dan manis, atau ayah anda pun tak layak untuk dikisahkan prestasinya. Tapi kenapa? Apakah lantas itu semua membuat anda tak bisa berbuat apa-apa?
Terlalu banyak kisah tentang mereka yang tak telalu beruntung, tidaklah dibesarkan dan dididik oleh orang-orang cerdik pandai nan mulia. Tapi mereka justru mampu tampil mempesona. Kita lahir dan dihidupkan bukanlah untuk meratapi masa lalu. Bukan untuk menyesali sejarah malainkan justru untuk merangkai sejarah.
Jika anda dapat berkecil hati hanya karena bukan keturunan seorang bangsawan ataupun orang terpandang, yakini bahwa anak cucu andapun dapat merasakan hal yang sama! Akankah anda akan membiarkan sejarah kusam terulang lagi? Saatnya bagi kita sang orang biasa ini untuk berubah. Tak perlu menguliti diri anda, tapi sekedar menyadarai bahwa kala yang telah terlewat tak kan pernah bisa menghalangi anda untuk menapaki kala berikutnya dengan lebih baik.
Tak perlu meratap dan mengemis agar orang tua kita berubah menjadi hebat, meratap dan mengemislah padaNya agar kita dapat menjadi hebat. Tak perlu orang hebat untuk meminta padaNya, orang biasapun bisa.
Untuk jiwa yang mengharap dapat tercatat dalam sejarah kepahlawanan kebenaran.
Feri d. sampurno
Bahagia menjadi orang biasa
K alau kita sadari bahwa setiap manusia memiliki kehidupan masing-masing dan memiliki pengharapan masing-masing tentu pada akhirnya mereka akan menjadi uniq. Generalisasi manusia adalah keajaiban dunia yang tak bakal pernah terwujud. Oleh karena itu makna sukses dan berhasil pada setiap orang pun berbeda.
Saya senang karena akhir-akhir ini ada banyak kalangan yang mengajak sebagian orang dan mengajarkan kepada mereka untuk memiliki paradigma yang lebih baik tentang kesuksesan. Sehingga ada banyak orang yang mulai merubah pengharapan mereka, sehingga tentu saja merubah pola kehidupan mereka. Apapun paradigma anda tentang kesuksesan, saya sarankan hargailah selama anda menilai itu yang terbaik bagi diri anda. Pemahaman terbaik, dalam hal ini mestilah sejalan dengan keyakinan asasi anda akan kebenaran. Kenapa saya menyarankan hal tersebut? Karena anda cukuplah menjadi seperti apa yang anda harapkan tentang diri anda sendiri. Selamanya anda tak akan pernah menjadi orang laing kacuali melakukannya dengan penuh rasa sakit pada jiwa dan kepribadian anda. Selamanya kita adalah kita! dengan segala keunikannya.
Saya menyarankan begini bukanlah menafikkan kebutuhan kita pada keteladanan, yang itu terjadi dengan proses duplikasi kehidupan jiwa lain. Meneladani, sangatlah berbeda dengan menjadi. Harap anda menggaris bawahinya. Anda tetaplah anda walau beraroma Muhammad saw, berbau Habibie, berpanorama Aa' Gym atau bergaya Bill Gates. Ingat mereka hanyalah sebagian dari tampilan luar kalau memang demikian, tapi sejatinya anda adalah anda. Meneladani mereka tak kan pernah menjadikan kita sebagai mereka. Kesuksesan mereka terjadi pada kala dan ruang yang berbeda. Kita memiliki hak untuk sukses pada kala dan ruang kita sendiri. Bahkan pada kadar takaran kita masing-masing. Jangan pernah silau dengan tampilan manusia yang pernah dipertontonkan oleh Allah saw sebagai manusia model. Karena mereka memang bertugas menampilkan itu, tapi kita memiliki tugas yang berbeda. Kita memiliki tugas yang berbeda untuk sukses.
Jadi, tak perlu seribu alasan untuk menjadi pecundang karena untuk menjadi sukses anda ternyata tak perlu sampai menguliti diri. Cukuplah hanya dengan berhenti untuk memerankan tugas perintisan kesuksesan dalam kadar anda sendiri, anda telah layak disebut sebagai pecundang. Sukses bukanlah hasil tapi proses. Bukankah pahlawan tidaklah dinilai dari bagaimana kematian mereka? tapi bagaimana proses hidup mereka! Dan pahlawan tak pernah disebut sebagai pahlawan sebelum mereka memulai proses kepahlawanannya. Andapun tak akan pernah manjadi sukses tanpa pernah memulai merintisnya. Ingat langkah pertama anda untuk memulai, telah tercatat sebagai kesuksesan besar pertama. Anda, saya dan siapapun yang mau memulai merintis proses kesuksesan telah layak disebut orang yang sukses. Tak perlu menguliti diri untuk menjadi sukses bukan?
Jadi tak sulit untuk menjadi sukses bukan? Orang yang anda anggap sukses juga orang biasa dengan tugas yang berbeda. Kita mestilah sukses sesuai peran dan kadar kala serta ruang kita sendiri. Selamat sukses wahai orang biasa. Karena semua orang itu sama kecuali katidakbiasaannya dalam hal prestasi taqwa. itu saja....
feri d. sampurno
*Sukses tinggal selangkah bila kita telah memulai langkah pertama. jika tak juga tertemui pastilah di langkah selanjutnya
Anda Acak-Abstrak................? Saya juga...............!
Ada rekan di kantor yang pernah berkelakar (tapi kayanya benar sich!) bahwa ide akan lebih mudah muncul ketika kita berada di 2 keadaan, yang pertama saat perjalanan, baik perjalanan jauh atau relatif dekat, baik ketika kita berperan sebagai pengemudi atau cuman penumpang. Pernah khan merasa bahwa ketika diperjalanan tiba-tiba kita menjadi lebih inspiratif? trus tau-tau muncul ide macam-macam yang tak bisa dibendung? nah itulah yang dimaksudkan teman saya. Trus yang kedua ketika di kamar mandi (expecially in the water closset). Coba kita ingat, betapa mengalir derasnya ide kita seiring derasnya guyuran air sewaktu kita menikmati kenikmatan tiada tara melepas satu persatu isi perut kita (bagian yang ini tolong nggak perlu direnungi, apalagi dihayati terlebih lagi dibayangkan) tak jarang ide cemerlang sering muncul ketika kita sedang jongkok begini. Saya berani mengekspose tulisan ini karena ini fakta empirik saya sendiri. ;) Trus.............? Pengalaman ini terjadi kembali ketika saya dalam perjalanan cukup panjang menuju kantor dengan motor kesayangan (maklum kantor saya +/-25km dari rumah). Saya memperoleh eureka ketika itu! Saya menemukan jawaban atas kelambanan berpikir dan inovasi saya akhir-akhir ini. Tiba-tiba muncul synaps baru dalam otak saya, yang menginformasikan bahwa modalitas "acak-abstrak" saya berpengaruh besar dalam kelambatan inovasi dan kinerja saya akhir-akhir ini. Orang yang acak-abstrak (berikutnya saya tulis acab) sebenarnya bukanlah orang yang tidak inovatif, justru sebaliknya dengan potensi acaknya mereka adalah orang yang terlampau bebas berekspresi. Ditambah lagi biasanya mereka adalah orang yang tak suka repetisi, jadi selalu ingin ada hal baru pada satu substansi permasalahan yang sama. Sederhananya orang acab, nggak suka rutinitas, trus nggak bisa wilayah kerjanya hanya dibatasi ruangan 9 meter persegi, pokoknya dia tak suka dengan batasan-batasan yang akan membuat hidupnya linier. Wuuek mendengar kata linier saja saya sudah mual! hehehe. Jelas sekali bahwa orang acab butuh ide baru setiap harinya! begitu inovati bukan? Lantas apa pengaruh modalitas acab pada keterlambatan inovasi dan kinerja? Mudah saja, coba anda bayangkan, ibarat sebuah kamar, otak acab adalah kamar yang penuh dengan bingkisan-bingkisan ide, buku-buku harapan, kain-kain pengalaman, serakan kertas-kertas lusuh dari ide-ide usang dan setumpukan tak beraturan motivasi hidup. Agar nggak terlalu rumit mengikuti deskripsi saya. Anda cukup membayangkan kamar berantakan dan acak-acakan, nah begitulah kiranya isi otak acab. Konklusinya kira-kira begini, jika otak anda penuh dengan ide-ide cemerlang yang tak beraturan atau bahkan cenderung berantakan seperti halnya harddisk yang lama tak didefrag, maka bisa anda bayangkan betapa rumit dan peliknya untuk mencari ide-ide tersebut? apalagi untuk menata dan mengelolanya? "Oia ya" begitu seru batin saya waktu itu, trus gmana ya untuk membantu ngluarin ide-ide itu trus menjadikannya nyata? Barulah otak saya mulai berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya. Otak saya memanfaatkan ruang-ruang kosong ditengah berantakan isinya. Dan akhirnya tanpa sadar saya membayangkan bagaimana prosesi perapian sebuah kamar. Bukankah jika kita ingin membersihkan kamar terlebih dahulu kita klasifikasikan seluruh benda yang ada di dalamnya yang sejenis kumpulkan dengan jenisnya yang semacam kumpulkan dengan macamnya yang serupa kumpulkan dengan rupanya (????), begitu seterusnya hingga tampak jelas mana yang perlu dan mana yang harus dibuang. Setelah anda membersihkan ruangan dan membuang yang nggak perlu barulah anda susun benda-benda itu menurut klasifikasinya masing-masing. Tapi ada pertanyaan muncul, bagaiman kalau ruangan itu terlalu kecil atau barangnya terlalu banyak? Pastilah kita memerlukan tambahan ruangan lain untuk transit sebagian barang tersebut sementara kita membersihkan ruangan dan merapikan sebagian barang lainnya. Bukan begitu? Nah tampaknya begitulah sebagian besar otak kita, ia semacam ruangan yang terlalu kesempitan atau terlalu banyak muatan! Trus, apakah kita butuh otak tambahan? Ups.... Bagi manusia modern dan berpikiran cerdas, otak tambahan adalah wacana koyol (atau jangan2 sedang diteliti nih???). Kita telah mengenal alat bantu untuk menolong otak kita, yups keluarkan seluruh ide itu kedalam media yang paling nyaman dan paling bisa kita jangkau (dari sisi dana maupun kecakapan kita). Boleh jadi kita merekamnya, atau menulis pake steno atau brain-reader (yang ini belum diproduksi massal! karena emang belum ada!heheheh) atau cara yang paling terjankau dan tradisional, yach kita tulis pake tulisan yang sehari-hari kita pakai. Tulis semua ide secara acak, dan jangan anda sortir dulu. Biarkan otak anda memindahkan satu persatu ide itu ke dalam catatan anda dengan lepas dan rileks. Hal ini perlu agar tidak terjadi lossing data akibat terlalu banyak disortir. Ingat konsep otak kiri-otak kana bukan? Nah biarkan urusan ide ini menjadi hak prerogatif otak kanan kita, ijinkan otak kiri kita untuk sekedar menyusun kata demi kata agar bisa dimengerti. Nah, jika ide-ide itu terasa telah keluar seluruhnya barulah anda mulai menyusun ide-ide itu agar lebih terstruktur. Olah ia hingga menjadi rencana strategis, action plan, hingga detil prosesnya. Sekarang kembali masukkan ide rapi itu kedalam otak anda. Didihkan ia hingga matang dengan bara motivasi jiwa hingga terserap dan terdistribusi merata kedalam setiap jaringan tubuh anda. Pada akhirnya ide itu akan terekam kuat dan tergambar jelas pada setiap kinerja dan kata-kata anda. Anda telah menjadi manusia baru yang benar-benar inspiratif. Rasanya himpitan sesak di jiwa menjadi plong manakala segala gejolak ide dan asa ini tertata dan tertatap jelas. Yang lebih menarik lagi adalah kinerja seluruh anggota tubuh kita akan jauh lebih dinamis, kenapa? karena menurut para ahli, your body is your brain, jadi jika otak anda lebih tertata dan lebih dinamis, maka begitupulalah tubuh anda.
Oh my Lord thanx...... You give me very-very exellent creation, my body, my brain, my thougth etc. Anda acab juga seperti saya? Mari kita coba resep baru temuan saya!Tiada kata terlambat untuk menjadi lebih baik bukan!Saudara bantu saya agar kinerja lebih baik ya!
Hamba yang selalu Rindu
perjumpaan denganNya
sebelumnya akan kubuktikan kerindunku
tuk menggenapkan pengabdianku.
Disela-sela kebangkitan diri
wujudkan mumpi tuk Wajihah
pilihanku sendiri.